Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng selaku pembina Nano Center Indonesia menjadi pembicara dalam acara “Diskusi Publik dan Pelantikan Pengurus HMTI dan HIMAGRIN Universitas Nadhlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta” pada Rabu, 10 April 2019. Bertempat di Aula Lantai 8 Gedung PBNU, acara ini mengusung tema “ Peran Mahasiswa Dalam Mengimplementasikan Revolusi 4.0”.

Turut hadir juga menjadi pembicara yaitu Dr. Ir. Retno Sri Hartati Mulyandari, M.Si (Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian) dan Drs. Bambang Irianto, Dipl. Desain., M.M (Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian).

Dihadapan peserta seminar yang terdiri atas dosen dan mahasisswa, Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng membahas mengenai “Indonesia dalam Prespektif Nanoteknologi, Cara Baru Memandang Indonesia Kita”.

Dalam pemaparannya Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng menyampaikan, Indonesia bisa menjadi salah satu pemain utama dalam nanoteknologi kedepannya, dimana Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah baik itu mineral maupun keanekaragaman hayatinya.

Untuk keragaman hayati, Indonesia termasuk no 2 di dunia. Semua itu bisa kita kembangkan menjadi bahan baku produk nano baik itu tanaman untuk kesehatan (obat herbal) seperti temulawak, sambiloto, pegagan, jahe, kina, maupun tanaman untuk perawatan tubuh dan kosmetik seperti aloe vera, rumput laut, manggis,lanjutnya.

Disamping itu dengan sekitar 34% dari total populasi Indonesia merupakan generasi muda (15 – 35 tahun), tentunya harus menyiapkan strategi untuk generasi millennials agar mengambil peran dan aktif terlibat serta kemampuan untuk beradaptasi yang dinamis mengingat peluang yang sangat besar kedepan, tambahnya.

Diakhir pertemuan Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng., Ph.D menekankan nanoteknologi akan menjadi harapan baru bagi negara berkembang yang memiliki kekayaan sumber daya alam, dan kita harus bisa mengakselerasinya sebaik mungkin. Selain itu diperlukan upaya dalam meningkatkan kapabilitas generasi muda khususnya yang berada di univeristas sehingga mendorong daya saing iptek dan inovasi yang berkelanjutan serta komersialisasi hasil penelitian. Hal ini akan dapat terlaksana dengan adanya sinergi yang baik antara akademisi, dunia bisnis atau industri dan pemerintah.