Sebanyak 8 siswa SMA dari berbagai wilayah di Indonesia terpilih untuk  mengikuti High School Research Camp (HSRC) 2018. Kegiatan ini berupa workshop penyusunan paten dan penulisan jurnal internasional yang dilaksanakan di kawasan Pusdiklat Pegawai Kemdikbud selama 5 hari (25-28, Agustus 2018).

HSRC 2018 sendiri merupakan inisiatif yang diselenggarakan oleh komunitas “Kemaren Sore”, yang merupakan komunitas yang peduli dengan bakat dan prestasi siswa SMA, bekerjasama dan didukung oleh Nano Center Indonesia dan Direktorat Pembinaan SMA (PSMA) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta PT. Bank Negara Indonesia (Persero).

Nano Center Indonesia yang diwakili oleh CEO Suryandaru, COO Radyum Ikono, serta tim R&D Dwi Wahyu Nugroho, Kurniawan, dkk turut serta membimbing dan mementori peserta selama 2 hari dalam penyusunan paten dan penulisan jurnal ilmiah

Tidak hanya diajarkan teori, peserta juga melakukan kunjungan ke Balai Besar Teknologi Aerodinamika Aeroelastika dan Aeroakustika di Puspiptek Serpong, PT. Paragon Technology  and Innovation dan Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Nano Center Bimbing Pelajar SMA Dalam Penysunan Paten dan Penulisan Jurnal Internasional Pada Program High School Rearch Camp 2018

Penyampaian Materi oleh CEO Nano Center Indonesia

Siswa yang mengikuti HSRC 2018 memiliki penelitian dan temuan yang terbilang sangat inovatif. Salah seorang peserta dari SMA Bali Mandara, Yuan Dwi Kurniawan menemukan alat pendeteksi birahi pada sapi berbasis internet of things (IoT) yang bermanfaat agar peternak mengetahui waktu yang optimal untuk melakukan inseminasi. Temuan ini telah membawa Yuan menjuarai olimpiade penelitian siswa Indonesia (OPSI) tahun 2017, serta mengantarkan dirinya mewakili Indonesia untuk mengikuti kompetisi penelitian internasional INTEL ISEF di Pittsburgh, Amerika Serikat tahun 2018.

Lain halnya sepreti yang dilakukan oleh Kurnia Fadilah, peserta asala SMA Model Terbuka Madani Palu Sulawesi Tengah ini menemukan formula memanfaatkan bonggol nanas sebagai bahan fermentasi pembuatan kecap ikan teri. Serta inovasi-inovasi menarik lainnya dari peserta seperti jamu berbasis pepaya jantan yang berpotensi menyembuhkan penyakit malaria, atau pembuatan pupuk dari salak pondoh busuk.

Kepala seksi bakat dan prestasi Direktorat PSMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Asep Sukmayadi menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada acara HSRC 2018 ini. “Inisiatif yang sangat perlu diapresiasi. Selama ini ribuan siswa SMA se-Indonesia telah menunjukkan potensi inovasi yang sangat luar biasa. Namun kini saatnya inovasi-inovasi tersebut untuk naik level mendapatkan hak paten juga pengakuan dunia internasional dengan mengirimkan naskah ke jurnal internasional. Kegiatan seperti ini kita mulai lakukan bekerjasama dengan komunitas peduli generasi muda, juga sebagai upaya pembinaan berkelanjutan untuk bakat hebat siswa Indonesia sekaligus sebagai penguatan karakter siswa yang tekun, jujur, mencintai ilmu, mandiri, dan cinta tanah air. Insya Allah mereka akan menjadi bonus generasi yang sesungguhnya untuk Indonesia”

Ketua panitia HSRC 2018, Rengga Adi Nugraha, sekaligus salah satu pendiri komunitas Kemaren Sore menyampaikan harapannya agar siswa SMA semakin tidak dianggap sebelah mata. “Sesuai nama komunitas kami, kita ingin menunjukkan bahwa anak-anak kemarin sore ini punya karya yang keren. Yang membuat kami makin berbesar hati adalah rata-rata inovasi yang dibuat oleh siswa-siswa ini bertujuan memberikan solusi bagi permasalahan sehari-hari di sekitar.”

Melihat siswa-siswa cemerlang pada HSRC 2018 ini, patut menjadikan optimisme terhadap masa depan sains di Indonesia. Karena melalui merekalah nanti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia ini berada melalui berbagai hasil penelitian yang inovatif, unggul dan berdaya saing.